Bagian 3

…[dari Bag.2]….Sekarang saya hendak bertanya, Anda menyiksa anak cucu Adam, mengucapkan sesuatu yang tidak patut diucapkan. [Mengutuk] orang menjadi perawan dan perjaka tua, dan juga mengubah nama menjadi Kutha Gedhah, memindah aliran sungai, dan selanjutnya mengutuk bahwa di daerah ini akan susah air. Itu namanya tindakan yang tidak berguna, menyiksa orang lain yang tak bersalah, menyebabkan susahnya kehidupan orang lain. Lelaki susah menemukan jodohnya. Tindakan itu bertentangan dengan titah dari Latawalhujwa. Semua itu berasal dari kutukan Anda, begitu besarnya kesusahan orang yang kebanjiran. Sungai Kediri berubah alirannya dan menerjang desa, hutan, sawah, berapa banyak yang rusak. Sedangkan di sini, Anda kutuk selamanya susah air, sungainya surut. Anda itu hanya menyiksa orang lain yang tidak bersalah.” …….
Sunan Bonang berkata, “Tempat ini aku ganti namanya menjadi Kutha Gedhah, karena orang di sini agamanya tidak hitam tidak putih, tepatnya agama biru, yakni agama Kalang. Aku kutuk susah air, karena saya minta air minum tidak boleh. Oleh karenanya, air sungainya saya rubah alirannya. Semua yang berada di sini saya kutuk susah air. Saya mengutuk agar orang di sini menjadi perawan dan perjaka tua, karena tidak bersedia memberikan saya air minum, yaitu gadis perawan kurang ajar itu.”
Buta Locaya berkata lagi, “Itu namanya orang yang tanpa pertimbangan. Kesalahan tidak seberapa, dan selain itu hanya satu orang yang bersalah, tetapi Anda telah membuat susah orang banyak sekali. Tidak sesuai dengan hukumannya. Anda itu namanya membuat susah orang banyak. Seandainya diketahui yang memiliki negara, maka Anda akan dihukum melarat sekali, karenanya merusak tanah. Sudah begini saja, Anda tarik kembali kutukan Anda. Di sini menjadi melimpah air kembali, sehingga bisa untuk bercocok tanah. Pria dan wanita dapat kembali menikah pada usia mudah, sesuai dengan titah dari Hyang Manon. Anda itu bukan Narendra (gelar Wisnu, mungkin yang dimaksud Tuhan – penterjemah), tetapi kok datang-datang mengharubiru agama. Itu namanya orang berengsek.”
Sunan Bonang berkata, “Meskipun kamu laporkan Raja Majalengka saya tidak takut.”
Buta Locaya setelah mendengar bahwa Sunan Bonang tidak takut pada Raja Majalengka menjadi makin marah, kata-katanya menjadi keras, “Anda itu jelas sekali tidak mencerminkan seseorang yang bijaksana dan berbudi luhur, melainkan lebih tepat lagi disebut dengan gelandangan (bahasa asli apabila diterjemahkan secara harafiah adalah orang yang tinggal dalam rumah bambu- penterjemah). Beraninya hanya mengandalkan kesaktiannya. Bersikaplah rendah hati sehingga dikasihi oleh Hyang Widdhi, dikasihi oleh sahabat, dan bukannya bertindak semau-maunya sendiri dengan tidak melihat kesalahannya. Itu namanya orang jahat yang tidak menimbang dulu permasalahannya. Di tanah Jawa ini, khan banyak orang yang kesaktiannya melebihi Anda, namun semuanya itu berbudi luhur dan tidak berusaha mengungguli para dewa. Mereka sama sekali tidak menyiksa orang lain tanpa melihat kesalahannya terlebih dahulu. Mengapa Anda meniru Aji Saka, muridnya Ijajil?
Aji Saka menjadi raja tanah Jawa, tetapi tiga tahun kemudian pergi meninggalkannya, sumber air yang ada di Medhang juga dibawanya pergi. Aji Saka orang dari India, sedangkan Anda adalah orang Arab, karena itu sama-sama tidak menghargai sesama manusia. Sama-sama membuat sulit air. Anda itu mengaku-ngaku sebagai Sunan, khan seharusnya berbudi luhur, menciptakan kebajikan bagi orang banyak, tetapi kok malah tingkah lakunya seperti itu. Anda itu seperti iblis tingkah lakunya. Tidak tahan digoda oleh anak kecil, lalu bangkit nafsu angkara murkanya. Sunan macam apa itu?
Kalau memang Anda sudah Sunan secara lahir bathin, maka seharusnya berbudi luhur. Anda menyiksa orang tanpa dosa, yaitu karena Anda dihina. Sehingga dengan demikian setelah ini Anda pantas masuk neraka jahanam. Kalau sudah mati, Anda akan tinggal di sana. Dimasukkan kawah air panas yang asapnya melimpah-limpah. Saya ini termasuk golongan makhluk halus, dan berbeda dengan kalian yang manusia. Karenanya saya ini masih ingat dengan kesejahteraan umat manusia. Ya sudah, apa yang sudah rusak saya minta untuk diperbaikik kembali. Sungai yang surut dan tempat yang rusak diterjang banjir, saya minta dikembalikan seperti asal mulanya. Jika Anda tidak bersedia mengembalikannya, semua orang Jawa yang sudah masuk Islam akan saya santet agar mati semua. Saya tentu juga akan minta bala bantuan dari Ratu Ayu Anginangin di laut selatan.”
Sunan Bonang setelah mendengar nasehat Buta Locaya jadi menyadari kesalahannya karena telah menyebabkan kesengsaraan banyak orang, maka berkatalah ia, “Buta Locaya, saya ini Sunan, tidak dapat menarik kembali ucapanku yang sudah keluar, besok jika telah genap lima ratus tahun, maka sungai ini kembali seperti semula.”
Buta Locaya setelah mendengar penolakan Sunan Bonang menjadi marah kembali, ia mengancam Sunan Bonang, “Harus dikembalikan sekarang juga, jika tidak bisa, maka Anda saya tahan di sini.”
Sunan Bonang berkata pada Buta Locaya, “Sudah, kamu tidak perlu mengajari aku, aku pamit mau ke Magetan, buah sambi ini aku sebut cacil, karena kok seperti anak kecil berkelahi. Makhluk halus dan manusia berkelahi mengadu pengetahuan masalah rusaknya tanah, serta kesengsaraan manusia dan makhluk halus. Saya akan minta pada Tuhan, buah sambi akan menjadi dua warna, dagingnya menjadi masam, bijinya agar keluar minyaknya. Asam itu menjadi lambang ulat masam, karena makhluk halus bertengkar dengan manusia. Minyak artinya makhluk halus menghalangi perginya manusia. Pada masa mendatang jadilah saksi kalau saya bertengkar dengan kamu. Dan mulai saat ini, tempat ini yang utara namanya desa Singkah, sedangkan yang di sini namanya Sumbre. Sedangkan tempat berkumpulnya pasukanmu di bagian selatan namanya dewa Kawanguran.”
Setelah berkata demikian, Sunan Bonang lalu melompat ke timur sungai. Hingga saat ini di Kutha Gedhah ada desa bernama Kawanguran, Sumbre, dan Singkal. Kawanguran artinya pengetathuan. Singkah artinya menemukan akal budi.
Buta Locaya mengikuti perginya Sunan Bonang. Sunan Bonang tiba di desa Bogem, di sana ia melihat ada patung kuda yang berbadan satu tetapi berkepala dua. Letaknya ada di bawah pohon trenggulun. Buah trenggulun itu banyak sekali hingga menggunung tinggi. Sunan Bonang lalu menghancurkan kepala patung kuda itu.
Setelah melihat Sunan Bonang menghancurkan kepala patung kuda, maka bangkit kembali kemarahan Buta Locaya. Ia berkata, “Itu adalah peninggalan sang Prabu Jayabaya, sebagai lambang tekadnya wanita Jawa. Besok di jaman Nusa Srenggi, siapa saja yang melihat patung itu akan sama-sama memahami tekad para wanita Jawa.”
Sunan Bonang menjawab, “Kamu itu bangsa makhluk halus, kok berani bertengkar dengan manusia. Itu namanya makhluk halus sombong.”
Buta Locaya berkata, “Lalu kenapa memangnya? Anda Sunan, saya raja.”
Sunan Bonang berkata, “Buah trenggulun ini aku namakan kenthos, sehingga menjadi peringatan di masa mendatang kalau aku bertengkar dengan makhluk halus sombong masalah rusaknya patung.”
Ki Kalamwadi menjelaskan, “Hingga sekarang, buah trenggulun namanya kenthos, karena berasal dari sabda Sunan Bonang. Itu adalah pemberitahuan dari guruku Raden Budi Sukardi.”
Sunan Bonang lalu pergi ke arah utara. Pada saat itu telah waktunya salat asar dan ia hendak menunaikan ibadah salat.
Di luar desa itu ada sumur, tetapi tidak ada ember untuk menimba air, karena itu Sunan Bonang menggulingkan sumur itu sehingga ia bisa menggambil air dari dalamnya.
Ki Kalamwadi menjelaskan, “Hingga saat ini sumur itu disebut sumur Gumuling. Sunan Bonang yang menggulingkannya. Itu katanya Raden Budi guruku, entah benar entah tidak.”
Setelah salat maka Sunan Bonang meneruskan perjalanannya, dan tiba di desa Nyahen. Di sana ada patung raksasa wanita yang terletak di bawah pohon dadap. Pada saat itu kebetulan pohon dadapnya sedang banya bunganya dan banyak yang berjatuhan di kanan dan kirinya patung raksasa itu sehingga nampak merah merona.
Sunan Bonang melihat arca yang tingginya 16 kaki dan lingkarnya 10 kaki. Apabila diangkat orang 800 juga masih belum terangkat.
Bahu kanan patung tersebut dihancurkan oleh Sunan Bonang dan selain itu dahinya juga dirusak.
Buta Locaya mengetahui tindakan Sunan Bonang merusak patung itu, timbul amarahnya kembali, “Anda itu benar-benar orang brengsek. Patung bagus-bagus kok dirusak tanpa sebab. Patung itu adalah peninggalan Sang Prabu Jayabaya, lalu mengapa Anda rusak?”
Jawaban Sunan Bonang, “Arca ini saya rusak supaya jangan disembah-sembah oleh orang banyak, supaya jangan dimantrai. Yang menyembah patung itu namanya kafir. Lahir dan bathinnya tersesat.”
Buta Locaya mengomel lagi, “Orang Jawa itu khan sudah tahu, bahwa itu hanya sebuah arca batu, tidak punya daya apa-apa, tidak punya kekuasaan apa, bukan Hyang Labawalhujwa, karena itu dimantrai dan diberi sesajian, supaya para makhluk halus yang dulunya tinggal di tanah atau kayu – karena tanah dan kayu itu dimanfaatkan bagi manusia – maka para makhluk halus itu diberi tempat tinggal di dalam arca. Anda itu tahu nggak sih?
Sudah wajar kalau para makhluk halus tinggal di gua dan patung. Selain itu mereka makan bau harum. Makhluk halus itu apabila makan bau harum, badannya terasa segar. Mereka betah tinggal di patung-patung batu yang berada di tempat sepi atau yang berada di depan pohon besar. Apakah Anda sudah pernah merasakan hidup di alam makhluk halus yang berbeda dengan alam manusia? Mereka yang hidup di dalam patung baru, Anda siksa, jadi karena itu Anda patut disebut orang jahil. Orang yang gemar berbuat seenaknya sendirinya terhadap sesame makhluk Tuhan. Lebih baik orang Jawa yang menghormati patung demi menguntungkan para makhluk halus, dibandingkan dengan orang Arab yang menyembah Ka’bah. Wujudnya juga tugu batu, sehingga seharusnya mereka juga sesat.”
Sunan Bonang menjawab, “Ka’bah itu ada karena jasanya Nabi Ibrahim, di situ terletak pusatnya bumi. Dibangun tugu dan disembah orang banyak. Siapa saja yang bersujud pada Ka’bah, Allah akan mengampuni dosanya selama hidup di dunia.”
Buta Locaya menjawab dengan marah, “Buktinya apa kalau mereka beroleh pengampunan dosa dari Tuhan, memperoleh pengampunan dari semua kesalahan. Apakah sudah memperoleh tanda tangan dan cap dari Tuhan?”
Sunan Bonang berkata lagi, “Itu semua disebut dalam kitabku. Besok kalau meninggal akan beroleh kemuliaan.”
Buta Locaya menjawab dengan tidak senang hati, “Ketahuilah, kemuliaan yang ada di dunia ini sudah ternoda, orang tersesat menyembah tugu batu, ketika mereka sudah melakukan kejahatan. Di Gunung Kelut banyak batu besar-besar hasil ciptaan Tuhan, kesemuanya itu terwujud berdasarkan Sabda Allah, itulah yang sesungguhnya lebih pantas disembah. Berdasarkan izin Yang Maha Kuasa, seluruh umat manusia harus mengetahui mengenai Ka’bah sejati, tubuh manusia itulah Ka’bah sejati. Sejati karena ciptaannya Yang Maha Kuasa. Inilah yang harus diperhatikan. Siapa yang sadar akan asal usulnya, mengetahui akal budinya, yaitu yang sanggup dijadikan suri tauladan.
Meskipun siang dan malam menjalankan salat, tetapi apabila pikirannya gelap, pengetahuannya amburadul, menyembah tugu batu yang dibuat nabi. Nabi itu khan juga manusia kekasih Allah, diberi wahyu sehingga menjadi pandai dan sanggup mengetahui apa yang akan terjadi. Sedangkan yang membangun arca batu itu adalah Prabu Jayabaya, yang juga merupakan kekasih Allah. Ia juga menerima wahyu mulia, juga banyak pengetahuannya dan sanggup mengetahui apa yang akan terjadi. Anda berpedoman pada kitab, sedangkan orang Jawa berpedoman pada sastra kuno, petuah dari leluhur sendiri. Lebih baik mempercayai sastra kuno dari leluhur sendiri yang peningggalannya masih dapat disaksikan. Orang mempercayai kitab Arab, padahal belum tahu keadaan di sana, entah benar entah salahnya, hanya percaya perkataannya para penipu.
Anda menjual kemuliaannya negeri Mekah. Padahal saya tahu seperti apa sebenarnya Mekah. Tanahnya panas, susah air, tanaman tidak bias tubuh, serta jarang hujan. Orang yang sanggup bernalar akan menyebut Mekah itu negeri celaka. Malah banyak orang yang diperjual-belikan sebagai budak. Anda itu orang durhaka. Saya minta untuk pergi dari sini, negeri Jawa yang suci dan mulia, cukup hujan dan air, apa yang ditanam dapat tumbuh, yang pria tampan, yang wanita cantik. Bicaranya juga luwes. Kalau Anda bicara masalah pusatnya jagad, maka tempat yang saya duduki inilah yang merupakan pusat jagad. Silakan Anda ukur, bila salah pukullah saya.
Anda itu seperti orang tidak waras, pertanda kurang nalar, kurang memakan pengetahuan akal budi, senang menyiksa orang lain. Yang membuat arca itu Maha Prabu Jayabaya, yang kesaktiannya melebihi Anda. Anda apa sanggup mengetahui apa yang akan terjadi? Sudahlah, saya minta Anda pergi saja dar sini. Jika tidak mau pergi dari sini, maka akan saya panggilkan adik saya dari Gunung Kelut. Anda saya keroyok apa bisa menang? Lalu akan saya bawa ke dalam kawah Gunung Kelut. Apakah Anda tidak sengsara? Apakah Anda ingin berdiam dalam batu seperti saya? Kalau mau silakan datang ke Selabale, jadi murid saya!”

Sekarang saya hendak bertanya, Anda menyiksa anak cucu Adam, mengucapkan sesuatu yang tidak patut diucapkan. [Mengutuk] orang menjadi perawan dan perjaka tua, dan juga mengubah nama menjadi Kutha Gedhah, memindah aliran sungai, dan selanjutnya mengutuk bahwa di daerah ini akan susah air. Itu namanya tindakan yang tidak berguna, menyiksa orang lain yang tak bersalah, menyebabkan susahnya kehidupan orang lain. Lelaki susah menemukan jodohnya. Tindakan itu bertentangan dengan titah dari Latawalhujwa. Semua itu berasal dari kutukan Anda, begitu besarnya kesusahan orang yang kebanjiran. Sungai Kediri berubah alirannya dan menerjang desa, hutan, sawah, berapa banyak yang rusak. Sedangkan di sini, Anda kutuk selamanya susah air, sungainya surut. Anda itu hanya menyiksa orang lain yang tidak bersalah.”

Sunan Bonang berkata, “Tempat ini aku ganti namanya menjadi Kutha Gedhah, karena orang di sini agamanya tidak hitam tidak putih, tepatnya agama biru, yakni agama Kalang. Aku kutuk susah air, karena saya minta air minum tidak boleh. Oleh karenanya, air sungainya saya rubah alirannya. Semua yang berada di sini saya kutuk susah air. Saya mengutuk agar orang di sini menjadi perawan dan perjaka tua, karena tidak bersedia memberikan saya air minum, yaitu gadis perawan kurang ajar itu.”

Buta Locaya berkata lagi, “Itu namanya orang yang tanpa pertimbangan. Kesalahan tidak seberapa, dan selain itu hanya satu orang yang bersalah, tetapi Anda telah membuat susah orang banyak sekali. Tidak sesuai dengan hukumannya. Anda itu namanya membuat susah orang banyak.

Seandainya diketahui yang memiliki negara, maka Anda akan dihukum melarat sekali, karenanya merusak tanah. Sudah begini saja, Anda tarik kembali kutukan Anda. Di sini menjadi melimpah air kembali, sehingga bisa untuk bercocok tanah. Pria dan wanita dapat kembali menikah pada usia mudah, sesuai dengan titah dari Hyang Manon. Anda itu bukan Narendra (gelar Wisnu, mungkin yang dimaksud Tuhan – penterjemah), tetapi kok datang-datang mengharubiru agama. Itu namanya orang berengsek.”

Sunan Bonang berkata, “Meskipun kamu laporkan Raja Majalengka saya tidak takut.”

Buta Locaya setelah mendengar bahwa Sunan Bonang tidak takut pada Raja Majalengka menjadi makin marah, kata-katanya menjadi keras, “Anda itu jelas sekali tidak mencerminkan seseorang yang bijaksana dan berbudi luhur, melainkan lebih tepat lagi disebut dengan gelandangan (bahasa asli apabila diterjemahkan secara harafiah adalah orang yang tinggal dalam rumah bambu- penterjemah). Beraninya hanya mengandalkan kesaktiannya. Bersikaplah rendah hati sehingga dikasihi oleh Hyang Widdhi, dikasihi oleh sahabat, dan bukannya bertindak semau-maunya sendiri dengan tidak melihat kesalahannya. Itu namanya orang jahat yang tidak menimbang dulu permasalahannya. Di tanah Jawa ini, khan banyak orang yang kesaktiannya melebihi Anda, namun semuanya itu berbudi luhur dan tidak berusaha mengungguli para dewa. Mereka sama sekali tidak menyiksa orang lain tanpa melihat kesalahannya terlebih dahulu.

Mengapa Anda meniru Aji Saka, muridnya Ijajil?Aji Saka menjadi raja tanah Jawa, tetapi tiga tahun kemudian pergi meninggalkannya, sumber air yang ada di Medhang juga dibawanya pergi. Aji Saka orang dari India, sedangkan Anda adalah orang Arab, karena itu sama-sama tidak menghargai sesama manusia. Sama-sama membuat sulit air. Anda itu mengaku-ngaku sebagai Sunan, khan seharusnya berbudi luhur, menciptakan kebajikan bagi orang banyak, tetapi kok malah tingkah lakunya seperti itu. Anda itu seperti iblis tingkah lakunya. Tidak tahan digoda oleh anak kecil, lalu bangkit nafsu angkara murkanya. Sunan macam apa itu?Kalau memang Anda sudah Sunan secara lahir bathin, maka seharusnya berbudi luhur. Anda menyiksa orang tanpa dosa, yaitu karena Anda dihina. Sehingga dengan demikian setelah ini Anda pantas masuk neraka jahanam. Kalau sudah mati, Anda akan tinggal di sana. Dimasukkan kawah air panas yang asapnya melimpah-limpah. Saya ini termasuk golongan makhluk halus, dan berbeda dengan kalian yang manusia. Karenanya saya ini masih ingat dengan kesejahteraan umat manusia. Ya sudah, apa yang sudah rusak saya minta untuk diperbaikik kembali. Sungai yang surut dan tempat yang rusak diterjang banjir, saya minta dikembalikan seperti asal mulanya. Jika Anda tidak bersedia mengembalikannya, semua orang Jawa yang sudah masuk Islam akan saya santet agar mati semua. Saya tentu juga akan minta bala bantuan dari Ratu Ayu Anginangin di laut selatan.”

Sunan Bonang setelah mendengar nasehat Buta Locaya jadi menyadari kesalahannya karena telah menyebabkan kesengsaraan banyak orang, maka berkatalah ia, “Buta Locaya, saya ini Sunan, tidak dapat menarik kembali ucapanku yang sudah keluar, besok jika telah genap lima ratus tahun, maka sungai ini kembali seperti semula.”

Buta Locaya setelah mendengar penolakan Sunan Bonang menjadi marah kembali, ia mengancam Sunan Bonang, “Harus dikembalikan sekarang juga, jika tidak bisa, maka Anda saya tahan di sini.”

Sunan Bonang berkata pada Buta Locaya, “Sudah, kamu tidak perlu mengajari aku, aku pamit mau ke Magetan, buah sambi ini aku sebut cacil, karena kok seperti anak kecil berkelahi. Makhluk halus dan manusia berkelahi mengadu pengetahuan masalah rusaknya tanah, serta kesengsaraan manusia dan makhluk halus. Saya akan minta pada Tuhan, buah sambi akan menjadi dua warna, dagingnya menjadi masam, bijinya agar keluar minyaknya. Asam itu menjadi lambang ulat masam, karena makhluk halus bertengkar dengan manusia. Minyak artinya makhluk halus menghalangi perginya manusia. Pada masa mendatang jadilah saksi kalau saya bertengkar dengan kamu. Dan mulai saat ini, tempat ini yang utara namanya desa Singkah, sedangkan yang di sini namanya Sumbre. Sedangkan tempat berkumpulnya pasukanmu di bagian selatan namanya dewa Kawanguran.”

Setelah berkata demikian, Sunan Bonang lalu melompat ke timur sungai. Hingga saat ini di Kutha Gedhah ada desa bernama Kawanguran, Sumbre, dan Singkal. Kawanguran artinya pengetathuan. Singkah artinya menemukan akal budi.

Buta Locaya mengikuti perginya Sunan Bonang. Sunan Bonang tiba di desa Bogem, di sana ia melihat ada patung kuda yang berbadan satu tetapi berkepala dua. Letaknya ada di bawah pohon trenggulun. Buah trenggulun itu banyak sekali hingga menggunung tinggi.

Sunan Bonang lalu menghancurkan kepala patung kuda itu. Setelah melihat Sunan Bonang menghancurkan kepala patung kuda, maka bangkit kembali kemarahan Buta Locaya.

Ia berkata, “Itu adalah peninggalan sang Prabu Jayabaya, sebagai lambang tekadnya wanita Jawa. Besok di jaman Nusa Srenggi, siapa saja yang melihat patung itu akan sama-sama memahami tekad para wanita Jawa.”

Sunan Bonang menjawab, “Kamu itu bangsa makhluk halus, kok berani bertengkar dengan manusia. Itu namanya makhluk halus sombong.”

Buta Locaya berkata, “Lalu kenapa memangnya? Anda Sunan, saya raja.”Sunan Bonang berkata, “Buah trenggulun ini aku namakan kenthos, sehingga menjadi peringatan di masa mendatang kalau aku bertengkar dengan makhluk halus sombong masalah rusaknya patung.”

Ki Kalamwadi menjelaskan, “Hingga sekarang, buah trenggulun namanya kenthos, karena berasal dari sabda Sunan Bonang. Itu adalah pemberitahuan dari guruku Raden Budi Sukardi.”

Sunan Bonang lalu pergi ke arah utara. Pada saat itu telah waktunya salat asar dan ia hendak menunaikan ibadah salat. Di luar desa itu ada sumur, tetapi tidak ada ember untuk menimba air, karena itu Sunan Bonang menggulingkan sumur itu sehingga ia bisa menggambil air dari dalamnya.

Ki Kalamwadi menjelaskan, “Hingga saat ini sumur itu disebut sumur Gumuling. Sunan Bonang yang menggulingkannya. Itu katanya Raden Budi guruku, entah benar entah tidak.”

Setelah salat maka Sunan Bonang meneruskan perjalanannya, dan tiba di desa Nyahen. Di sana ada patung raksasa wanita yang terletak di bawah pohon dadap.

Pada saat itu kebetulan pohon dadapnya sedang banya bunganya dan banyak yang berjatuhan di kanan dan kirinya patung raksasa itu sehingga nampak merah merona. Sunan Bonang melihat arca yang tingginya 16 kaki dan lingkarnya 10 kaki. Apabila diangkat orang 800 juga masih belum terangkat.

Bahu kanan patung tersebut dihancurkan oleh Sunan Bonang dan selain itu dahinya juga dirusak.

Buta Locaya mengetahui tindakan Sunan Bonang merusak patung itu, timbul amarahnya kembali, “Anda itu benar-benar orang brengsek. Patung bagus-bagus kok dirusak tanpa sebab. Patung itu adalah peninggalan Sang Prabu Jayabaya, lalu mengapa Anda rusak?”

Jawaban Sunan Bonang, “Arca ini saya rusak supaya jangan disembah-sembah oleh orang banyak, supaya jangan dimantrai. Yang menyembah patung itu namanya kafir. Lahir dan bathinnya tersesat.”

Buta Locaya mengomel lagi, “Orang Jawa itu khan sudah tahu, bahwa itu hanya sebuah arca batu, tidak punya daya apa-apa, tidak punya kekuasaan apa, bukan Hyang Labawalhujwa, karena itu dimantrai dan diberi sesajian, supaya para makhluk halus yang dulunya tinggal di tanah atau kayu – karena tanah dan kayu itu dimanfaatkan bagi manusia – maka para makhluk halus itu diberi tempat tinggal di dalam arca. Anda itu tahu nggak sih? Sudah wajar kalau para makhluk halus tinggal di gua dan patung. Selain itu mereka makan bau harum. Makhluk halus itu apabila makan bau harum, badannya terasa segar. Mereka betah tinggal di patung-patung batu yang berada di tempat sepi atau yang berada di depan pohon besar. Apakah Anda sudah pernah merasakan hidup di alam makhluk halus yang berbeda dengan alam manusia? Mereka yang hidup di dalam patung baru, Anda siksa, jadi karena itu Anda patut disebut orang jahil. Orang yang gemar berbuat seenaknya sendirinya terhadap sesame makhluk Tuhan. Lebih baik orang Jawa yang menghormati patung demi menguntungkan para makhluk halus, dibandingkan dengan orang Arab yang menyembah Ka’bah. Wujudnya juga tugu batu, sehingga seharusnya mereka juga sesat.”

Sunan Bonang menjawab, “Ka’bah itu ada karena jasanya Nabi Ibrahim, di situ terletak pusatnya bumi. Dibangun tugu dan disembah orang banyak. Siapa saja yang bersujud pada Ka’bah, Allah akan mengampuni dosanya selama hidup di dunia.”

Buta Locaya menjawab dengan marah, “Buktinya apa kalau mereka beroleh pengampunan dosa dari Tuhan, memperoleh pengampunan dari semua kesalahan. Apakah sudah memperoleh tanda tangan dan cap dari Tuhan?”

Sunan Bonang berkata lagi, “Itu semua disebut dalam kitabku. Besok kalau meninggal akan beroleh kemuliaan.”

Buta Locaya menjawab dengan tidak senang hati, “Ketahuilah, kemuliaan yang ada di dunia ini sudah ternoda, orang tersesat menyembah tugu batu, ketika mereka sudah melakukan kejahatan. Di Gunung Kelut banyak batu besar-besar hasil ciptaan Tuhan, kesemuanya itu terwujud berdasarkan Sabda Allah, itulah yang sesungguhnya lebih pantas disembah. Berdasarkan izin Yang Maha Kuasa, seluruh umat manusia harus mengetahui mengenai Ka’bah sejati, tubuh manusia itulah Ka’bah sejati. Sejati karena ciptaannya Yang Maha Kuasa. Inilah yang harus diperhatikan. Siapa yang sadar akan asal usulnya, mengetahui akal budinya, yaitu yang sanggup dijadikan suri tauladan.Meskipun siang dan malam menjalankan salat, tetapi apabila pikirannya gelap, pengetahuannya amburadul, menyembah tugu batu yang dibuat nabi. Nabi itu khan juga manusia kekasih Allah, diberi wahyu sehingga menjadi pandai dan sanggup mengetahui apa yang akan terjadi. Sedangkan yang membangun arca batu itu adalah Prabu Jayabaya, yang juga merupakan kekasih Allah. Ia juga menerima wahyu mulia, juga banyak pengetahuannya dan sanggup mengetahui apa yang akan terjadi. Anda berpedoman pada kitab, sedangkan orang Jawa berpedoman pada sastra kuno, petuah dari leluhur sendiri. Lebih baik mempercayai sastra kuno dari leluhur sendiri yang peningggalannya masih dapat disaksikan. Orang mempercayai kitab Arab, padahal belum tahu keadaan di sana, entah benar entah salahnya, hanya percaya perkataannya para penipu.Anda menjual kemuliaannya negeri Mekah. Padahal saya tahu seperti apa sebenarnya Mekah. Tanahnya panas, susah air, tanaman tidak bias tubuh, serta jarang hujan. Orang yang sanggup bernalar akan menyebut Mekah itu negeri celaka. Malah banyak orang yang diperjual-belikan sebagai budak. Anda itu orang durhaka. Saya minta untuk pergi dari sini, negeri Jawa yang suci dan mulia, cukup hujan dan air, apa yang ditanam dapat tumbuh, yang pria tampan, yang wanita cantik. Bicaranya juga luwes. Kalau Anda bicara masalah pusatnya jagad, maka tempat yang saya duduki inilah yang merupakan pusat jagad. Silakan Anda ukur, bila salah pukullah saya.Anda itu seperti orang tidak waras, pertanda kurang nalar, kurang memakan pengetahuan akal budi, senang menyiksa orang lain. Yang membuat arca itu Maha Prabu Jayabaya, yang kesaktiannya melebihi Anda. Anda apa sanggup mengetahui apa yang akan terjadi? Sudahlah, saya minta Anda pergi saja dar sini. Jika tidak mau pergi dari sini, maka akan saya panggilkan adik saya dari Gunung Kelut. Anda saya keroyok apa bisa menang? Lalu akan saya bawa ke dalam kawah Gunung Kelut. Apakah Anda tidak sengsara? Apakah Anda ingin berdiam dalam batu seperti saya? Kalau mau silakan datang ke Selabale, jadi murid saya!”

… [Bersambung ke Bag.4] …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s