file: Burung sebagai Maskot Tudingan dan Tuntutan

[kukilo] Burung sebagai Maskot Tudingan dan TuntutanEriyawanMon, 07 May 2001 19:36:22 -0700
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0105/08/iptek/buru27.htm

adopted from : http://www.mail-archive.com/kukilo@lead.or.id/msg00423.html

Kompas/rudy badil
DAYA tarik burung jalak bali, sungguh sakti. Bali yang sudah memiliki setumpuk daya tarik wisata budaya dan alamnya, kalau ditambah jalak baliyang terkenal sebagai spesies endemik unik dan hanya ada di Bali, pastimakin hebat. Khususnya di alam sekitar Taman Nasional Bali Barat (TNBB) yangrusak itu, serta sisa potensi wisata bahari dengan bekas taman laut danPulau Menjangan. Tidaklah aneh, potensi wisata bahari plus jalak bali disana, sungguh menjadi tumpuan daya tarik tambahan datangnya wisatawan asingke sana. Sayangnya keadaan TNBB kian sulit dikendalikan. Pencurian danpenjarahan isi hutan, termasuk satwa liarnya, sudah menjadi kegiatanselingan dan sehari-hari. Belum lagi ribut-ribut soal status TNBB, sertameluasnya permasalahan gara-gara pemberian izin pengusahaan pariwisata alam(IPPA) yang diduga merusak lingkungan hidup dan mengganggu langsung zonainti TNBB, sebagai habitat satwa liar endemik termasuk jalak bali.Persoalan bertele-tele sejak tahun lalu ini, sampai kini mungkin belumsepenuhnya selesai. Serangan keras berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM)terhadap pengorganisasian kerja TNBB, rasa-rasanya belum habis-habis juga.Bahkan di awal tahun ini, barisan LSM dan sejumlah aktivis lingkungan itu,mendatangi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali, sambil mengadukanhal-hal buruk apa saja yang terjadi di TNBB.
Katanya koloni hutan cendana murni di TNBB, kini tinggal tersisa beberapabatang pohon lagi. Kawasan hutan cendana itu telah diubah dari zona rimba,menjadi zona pemanfaatan yang akhirnya digunakan untuk pembangunan resor.Hutan kemasyarakatan diserobot lalu dijualbelikan dengan harga antara Rp 3juta hingga Rp 6 juta per hektar.
Ujung-ujungnya jalak bali menjadi picu ledaknya dengan kalimat klasik khasLSM. “Maskot Bali yang berupa jalak bali (Leucopsar rothschildi) sebentarlagi bukan mustahil hanya tinggal kenangan, menyusul punahnya harimau lorengdan banteng bali yang merupakan cikal bakal sapi bali berwarna coklat …padahal jalak bali itu diketahui, amat rentan terhadap perubahan lingkungansekecil apa pun, apalagi jarak antara habitat terakhir di Tanjung Kelor,sangatlah dekat zona pemanfaatan yang dikuasai investor dengan pembangunanresornya …”

***
RAMAI juga kalau membaca edaran LSM ini. Pokoknya apa yang dilihat dan dilakukan pihak lain, itu salah semua, meski tanpa akurasi data penelitiandan sejenisnya. Isu burung dijadikan tuntutan sentral. Jalak Bali yang katanya tersisa delapan ekor lagi, menjadi maskot tuntutan dan tudingan kepihak tertentu. Curik ini menjadi kata sakti untuk memenangkan secara “legalilmiah”, tuntutan yang berbuntut kepentingan penuntutnya juga.
Selain pengurus TNBB yang seakan-akan dianggap tidak berdaya, juga patutdireformasi pejabat dan kebijakan kerjanya, serta beberapa pihak termasukpengusaha lainnya yang menjadi “sasaran tembak”. Ambil contoh WakaShoreaResor (WSR) sebagai salah satu resor di sekitar TNBB. Kebetulan resor yangdikelola Grup Waka yang asli dimiliki warga Bali, membangun pondokan wisatayang khas WakaShorea di Tanjung Kotal, di zona pemanfaatan yang bertetanggadengan zona rimba inti menurut versi TNBB.
WakaShorea yang berkonsep menghindari keramaian atau hide away dan ramahlingkungan ini, bergiat menyewakan pondok sepi yang ekoturisme ini sebagaipusat wisata bahari di seberang Pulau Menjangan, di dalam kawasan TNBB sejakawal tahun ini. Kebetulan sekali, resor ini seperti beberapa resor lainnya,dianggap kecipratan rezekinya salah satu tokoh KKN-nya kelompok Cendana.
Titik lemah dugaan KKN itu, memang makanan publisitas. Siapa yang tidaktertarik membaca judul semisal Pemda Kecolongan Proyek Bob Hasan, KelompokCendana Garap Proyek Siluman, Konspirasi Merusak Lingkungan di Bali, danlainnya. Upaya kelompok pejuang reformasi itu untuk menyerang, sekalianmelumpuhkan usaha bisnis pariwisata ini, memang ampuh dan sempat membuatopini pro dan kontra.
Secara umum, di zaman sekarang ini, siapa saja yang berniat berusaha danmencari keuntungan bisnis, rasa-rasanya akan menjadi pihak yang “salah”.Apalagi kalau masyarakat sekitar lokasi bersangkutan, ikut meramaikan danmeminta haknya sebagai pihak yang mencari keuntungan juga.
Yang terjadi di sana hingga muncul pers release dan aksi ke DPRD Bali, danmemakai maskot jalak bali sebagai tuntutan utamanya, sebenarnya gara-garakepentingan bisnis lokal juga. Bisnis penyewaan perahu tambang, untukmelayani turis menyelam dan berenang diperairan Pulau Menjangan. Pangkalanperahu sewa ini di Labuan Lalang, sebagai lokasi pemberangkatan danbersandarnya kapal sewaan berwisata bahari, sejak beberapa tahun memangmonopoli masyarakat Desa Sumber Klampok.
Kebetulan ada sekelompok warga merasa sebagai perintis usaha wisata baharidi Teluk Terima dan Labuan Lalang, menganggap kelompoknya sebagaipengorganisasi penyewaan kapal wisata. Kelompok ini menganggap pengelolaresor sebagai “pendatang baru”, kurang mulus bekerja sama dengan “penghunilama”.
Tidaklah adil dan bukan reformis, kalau pengusaha resor tidak membagikeuntunganbuat Paguyuban Pemilik Boat alias pengusaha kapal wisata di Labuan Lalangdan sekitarnya. Untuk lebih dramatis, kelompok “perintis” yangmengatasnamakan 12 tokoh lokal, juga meminta hak pengelolaan atas sebidanglahan sebagai kompensasi dari upayanya merintis wisata bahari di TNBB.
Jadi inti tuntutan itu memang UUD, alias “ujung-ujungnya duit”. Dalihhancurnya terumbu karang, kerusakan garis empadan pantai, bobroknyapengorganisasian TNBB, gundul dan makin tipisnya hutan, atau menjelabangmusnahnya jalak bali, tidak lagi menjadi tuntutan dalam ruang rembukan,antara pengusaha resor dengan “penghuni lama” dan peguyupan kapal.

***
JALAK bali yang disebut tinggal delapan ekor, bukan belasan ekor sepertiedaran resmi TNBB, tidak disebut-sebut sebagai pangkal tuntutan warga yangdidukung LSM tertentu. Raibnya 56 ekor jalak bali hasil penangkaran di TegalBunder, juga tidak dipermasalahkan serius lagi. Burung yang memang tinggalsedikit ini, cuma menjadi kata pembukaan suatu konflik kepentingan.
Kini tinggallah pemilik resor di sekitaran Teluk Terima, Labuan Lalang danTanjung Kotal yang berusaha di bidang kenyamanan pariwisata, nyatanya harusbekerja di bawah “tekanan” yang tidak nyaman sama sekali.
“Kami sudah melakukan sesuai ketentuan, baik itu perizinan legal, sampaikonsep konservasi alam dan wisata alam,” ujar Dhasi Suryawan, wakilpengelola WakaShorea di Tanjung Kotal, awal Februari lalu. “Soal angkutan,kami sudah mengadakan kesepakatan yang menguntungkan kedua pihak, termasukturis asingnya.”
Bayu Wardoyo sebagai arsitek dan staf direksi Grup Waka, mengakuipembangunan resor di tanah enam hektar dari izin 29 hektar, semuanya sudahsesuai konsep konservasi. “Kami meminimalkan pemanfaatan lahan dan bahanalami. Lihat saja, hampir semuanya memanfaatkan bahan kayu bekas. Sekitar 85persen dari belasan bangunan pondok itu, berbentuk panggung dan berataprendah. Kecuali restoran yang beratap ilalang lebih tinggi dari pohonlingkungan, selebihnya bangunan lebih pendek dari pohon sekitaran,” katanya,saat menerima kunjungan wartawan dan operator tur.
Lokasi resor di pantai gersang, tertutup semak dan pepohonan yang di musimkemarau akan meranggas, memang terasa sepi dan cocok bagi turis yangmenginginkan hidup “hide away” tanpa bunyi radio, televisi, musik disko danlampu listrik berlebihan. Air tiap hari didatangkan dari daratan. Sampahnonorganik diangkut dan dibuang ke Labuan Lalang. Sedangkan di resor,memanfaatkan pengolahan limbah dengan sistem EM (efective microorganism).
Resor bertarif dolar AS ini, menurut Bayu Wardoyo dan Dhasi Suryawan, cocokuntuk wisatawan elite, bukan rombongan turis. Alam pantai sepi, kenyamananmenyelam dan suasana sepi dan kekelaman TNBB di hari gelap, memang kelebihanresor yang memanfaatkan sumber daya manusia warga lokal sekitaran.
“Kehadiran resor ini memang kontroversial,” ujar Bayu yang menjelaskan upayaperusahaannya mengecilkan konflik. “Paling tidak kehadiran resor ini,menghambat juga nelayan yang masuk taman nasional, mengambil kayu danmungkin mengganggu satwa liar. Juga operasi bersama dengan pihak TNBB, tidakmustahil mengecilkan aksi pemboman di lautan bebas.”
Kalau resor ini dianggap ikut merusak kelestarian alam dan satwa TNBB,apakah tidak mungkin resor ini ikut berperan melindungi, atau bahkan ikutmemperbaiki kerusakan yang ada. “Kami bisa saja ikut mendanai penelitian,atau mengerahkan tenaga pencinta alam, untuk mengadakan bersih pantai secaraberkala. Atau menanami kembali bibit pohon cendana bali. Bahkan kami sudahmenjajaki kemungkinan membantu PHPA, mengadakan penangkaran jalak baliseperti di Tegal Bunder,” kata Dhasi bersemangat.

***
UCAPAN macam ini mengejutkan juga. Bayu dan Dhasi yang sempat mengunjungipusat penangkaran itu, menyatakan upaya mengembangkan jalak bali denganpenangkaran ex-situ yang in-situ, bukanlah hal mustahil bagi perusahaannya.”Asalkan PHPA memberikan izin, serta petunjuk teknis. Kami akan mendidik SDMsendiri, kalau perlu mencari pakar jalak bali sebagai pengelolanya,” kataBayu. “Apalagi resor kami bertetangga dengan Teluk Brumbun yang ada kandangbesar. Anakan jalak bali itu, akan kami berikan ke sana supaya diliarkanlagi.”
Sambil membaca keterangan buku, Dhasi menyadari anakan jalak bali ini tidakmudah diliarkan dan dikembangkan di habitat baru. “Kami pelihara danmengembangkan populasinya, di bawah pengawasan PHPA. Proyek ini akan menariktamu resor. Nama kita akan baik, daripada cuma ditanya mengapa jalak balimakin habis. Kalau memang sudah saatnya dilepas, misalnya hutan TNBB sudahpadat dan dijaga bagus, serahkan saja anak burung itu ke negara,” kataDhasi.
“Pelepasan jalak bali hasil penangkaran ke alam untuk memperkuat populasiliar, disarankan hanya dilakukan jika jumlah jalak bali liar telah sampai kejumlah yang sangat kritis. Usaha untuk melepaskan jalak bali tangkaran,seperti juga mengembalikan burung-burung tangkapan liar, memerlukan teknikpelepasan yang baik, walaupun pada kenyataannya hanya sedikit jalak baliyang telah dilepas ke alam bertahan hidup.” (Rencana Pemulihan Spesies JalakBali, PHPA/BirdLife, 1997)
Bayu dan Dhasi menyatakan akan kontak dengan pihak berwenang, juga mencariinfo siapa pemilik jalak bali yang mau bekerja sama. “Daripada bertengkardan ujung-ujungnya duit, lebih baik sama-sama ikut memikirkan upayaperlindungan hutan dan konservasi, serta kerja sama pengelolaan yang salingbermanfaat,” katanya.
Entah bagaimana perkembangan rembukan lokal, antara “pendatang baru” dan”penghuni lama” di TNBB. Entah pula bagaimana keadaan burung jalak bali yangselain maskot Bali, juga maskot berbagai tudingan dan tuntutan kepentinganmanusia, bukan kepentingan burung liar yang binatang. Sayang. (pun/bd)

About dhasibali

Just ordinary person living in Bali-Indonesia, but always willing to record whatever being experienced in life.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s