9 Kita Menghindari Perceraian

Hidup berumah tangga hingga akhir hayat, bahagia dan memiliki keturunan merupakan dambaan setiap pasangan yang menikah.
Tidak ada pasangan yang menginginkan perceraian dalam rumah tanggamereka.
Sudah menjadi berita yang biasa di era sekarang ini jika satu pasangan yang baru menikah beberapa bulan, kemudian terdengar kabar tentang perceraian mereka.
“Bisa saja keputusan mereka untuk menikah, hanya sebatas agar Anda dianggap mampu berumah tangga dan bisa memiliki pasangan saja…”
” Tetapi bukan karena didasari rasa cinta yang mendalam dan keinginan untuk hidup selamanya bersama pasangan Anda…”
Keinginan “semu” ini yang justru berakibat fatal jika tidak segera Anda sadari dan Anda perbaiki sejak awal.
Perceraian seringkali menyakitkan bagi pihak-pihak yang terlibat, termasuk di dalamnya adalah anak-anak.
Perceraian juga dapat menimbulkan stres dan trauma untuk memulai hubungan baru dengan lawan jenis.
Berikut ini beberapa kiat yang diharapkan dapat membantu pasangan menikah untuk mempertahankan selama mungkin usia pernikahan mereka:
1. Komunikasi Dua Arah
Biasakan Anda dan pasangan berkomunikasi, baik ketika berada di rumah maupun ketika sedang berjauhan. Jika ada masalah, sebaiknya dibicarakan ketika Anda atau pasangan sedang santai.
Ketidakharmonisan rumah tangga biasanya berawal dari tidak adanya komunikasi dua arah antara suami dan istri.
Masing-masing saling menyimpan masalah sehingga mereka seolah berjalan sendiri-sendiri meski berada dalam satu atap.
2. Keterbukaan Masalah Seks
Masalah seks ternyata juga menjadi penyebab perceraian.
Mungkin orang sering lupa bahwa fungsi hubungan seksual selain prokreasi yakni untuk mendapatkan keturunan, juga untuk rekreasi atau kesenangan, dan ” ekspresi cinta” .
Padahal banyak pasangan mengakui, melakukan hubungan seksual dapat menghilangkan ketegangan setelah seharian bekerja.
Bahkan, agar tidak terjadi kebosanan, tak ada salahnya melakukan hubungan seks selain di tempat tidur. Anda bisa melakukannya di dapur,ruang tamu, bahkan di garasi.
Namun perlu diingat, apa yang Anda inginkan dalam berhubungan seks harus dikomunikasikan dengan pasangan Anda. Demikian pula sebaliknya.
3. Menerima Apa Adanya
Ketika seorang pria dan wanita sudah sekamar dan sedapur, masing-masing akan tampak sifat aslinya. Rayuan gombal tidak muncul lagi seperti saat pacaran.
Yang ada hanyalah dua orang yang harus saling menyesuaikan diri.. Di sinilah kehidupan perkawinan yang sesungguhnya. Anda dan pasangan belajar mengenali perbedaan masing-masing.
Beberapa hal yang umumnya menjadi batu sandungan dalam hubungan suami istri, adalah perbedaan persepsi, wawasan, dan nilai.
Termasuk di dalamnya perbedaan agama, latar belakang budaya, dan kepribadian.
Namun, perbedaan itu sebenarnya bisa diatasi kalau saja mau saling berusaha memahami dan berintrospeksi diri.
Kebanyakan pasutri yang berhasil menciptakan keharmonisan hingga masa tua adalah mereka yang berhasil membangun kebersamaan.
Kebersamaan baru tercipta bila pasangan berhasil menumbuhkan semangat berkorban, tidak egoistis, dan memiliki rasa saling pengertian.
4.. Jangan Biasakan Berbohong
Pernahkan pasangan Anda bertanya secara detail jika Anda masih sibukmeeting hingga malam dengan klien bisnisnya yang ternyata cantik atau ganteng, pintar dan berpenampilan menarik?
Nah, biasanya, agar pasangan Anda tidak terlalu banyak bertanya dan Anda enggan jika nantinya akan muncul pertengkaran, Anda malah berbohong. Anda justru mengatakan hal yang berbeda dengan alasan untuk kebaikan.
Perlu Anda ketahui bahwa hal ini termasuk dalam kebohongan yang bisa jadi akan berlanjut hingga Anda dan pasangan akan hidup berumah tangga dalam kebohongan.
Agar semua itu tidak terjadi, utarakan dengan sikap tenang bahwa apa yang Anda lakukan adalah hanya urusan pekerjaan.
5. Jangan Cemburu Berlebihan
Banyak yang mengatakan bahwa cemburu adalah bumbu dalam hubungan rumah tangga. Oke, itu sah-sah saja!
Tapi bukan berarti Anda atau pasangan bisa cemburu buta. Bukan barang baru bahwa banyak perselisihan terjadi gara-gara rasa cemburu, yang lebih sering berakar dari salah tafsir dan kurangnya keterbukaan.
Misalnya saja, pada suatu ketika karena tuntutan pekerjaan, suami harus mengajak sekretarisnya keluar kota. Sang istri yang hanya mendengar cerita setengah-setengah dari orang lain, bisa dengan gampang menuduh suaminya berselingkuh.
Padahal kalau saja istri mau bertanya dan suami mau terbuka, atau sebelumnya memperkenalkan sekretarisnya pada sang istri, masalahnya bisa jadi lain.
6. Hindari Selingkuh
Perselingkuhan umumnya terjadi karena masing-masing tidak mau saling terbuka ataumendengarkan apa yang dikeluhkan pasangannya.
” Contohnya, sang suami merasa jengkel karena setiap kali pulang, istrinya tidak di rumah.. !! “
Tapi keluhan itu tidak disampaikan, atau sudah diutarakan namun tidak didengarkan, atau istri tidak mau mengubah kebiasaannya.
Perselingkuhan juga bisa terjadi karena pasangan kesepian, jarang merasakan kepuasan seksual atau godaan dari luar seperti tempat hiburan bernuansa erotis, wanita perayu dan lain-lain.
Untuk menyelesaikan percekcokan ataupun perselingkuhan, yang harus dilakukan pertama adalah mencari akar permasalahnnya, kemudian diusahakan untuk dihindari atau disingkirkan.
7. Cari Orang Ketiga Sebagai Penengah
Jika ternyata timbul permasalahan dan percekcokan antara Anda dan pasangan, carilah orang ketiga sebagai penengah.
Orang tersebut bisa pemuka agama seperti Kyai atau pendeta, serta tokoh masyarakat yang memiliki wawasan yang luas dan bijak dan psikolog.
Cari ini lebih baik ketimbang Anda berkeluh kesah dengan saudara, tetangga atau teman2 Anda.. !
8. Tetaplah Mesra
Agar hubungan Anda dan pasangan tetap mesra, buanglah pula jauh-jauh persepsi bahwa kemesraan hanya pantas dilakukan selagi masih berpacaran.
Pada dasarnya, kemesraan itu hak setiap insan, tanpa pandang usia maupun status.
9. Pasrahkan Kepada Yang Di Atas
Terkadang, emosi muncul secara berlebihan ketika permasalahan Anda dan pasangan menguak ke permukaan.
Berdoa dan pasrahkan diri Kepada Yang Maha Pencipta merupakan cara jitu agar emosi bisa diredamkan dan permasalahan bisa segera diselesaikan secara baik-baik.
Sudah menjadi berita yang biasa di era sekarang ini jika satu pasangan yang baru menikah beberapa bulan, kemudian terdengar kabar tentang perceraian mereka.
“Bisa saja keputusan mereka untuk menikah, hanya sebatas agar Anda dianggap mampu berumah tangga dan bisa memiliki pasangan saja…”
” Tetapi bukan karena didasari rasa cinta yang mendalam dan keinginan untuk hidup selamanya bersama pasangan Anda…”
Keinginan “semu” ini yang justru berakibat fatal jika tidak segera Anda sadari dan Anda perbaiki sejak awal.
Perceraian seringkali menyakitkan bagi pihak-pihak yang terlibat, termasuk di dalamnya adalah anak-anak.
Perceraian juga dapat menimbulkan stres dan trauma untuk memulai hubungan baru dengan lawan jenis.
Berikut ini beberapa kiat yang diharapkan dapat membantu pasangan menikah untuk mempertahankan selama mungkin usia pernikahan mereka:
1. Komunikasi Dua Arah
Biasakan Anda dan pasangan berkomunikasi, baik ketika berada di rumah maupun ketika sedang berjauhan. Jika ada masalah, sebaiknya dibicarakan ketika Anda atau pasangan sedang santai.
Ketidakharmonisan rumah tangga biasanya berawal dari tidak adanya komunikasi dua arah antara suami dan istri.
Masing-masing saling menyimpan masalah sehingga mereka seolah berjalan sendiri-sendiri meski berada dalam satu atap.
2. Keterbukaan Masalah Seks
Masalah seks ternyata juga menjadi penyebab perceraian.
Mungkin orang sering lupa bahwa fungsi hubungan seksual selain prokreasi yakni untuk mendapatkan keturunan, juga untuk rekreasi atau kesenangan, dan ” ekspresi cinta” .
Padahal banyak pasangan mengakui, melakukan hubungan seksual dapat menghilangkan ketegangan setelah seharian bekerja.
Bahkan, agar tidak terjadi kebosanan, tak ada salahnya melakukan hubungan seks selain di tempat tidur. Anda bisa melakukannya di dapur,ruang tamu, bahkan di garasi.
Namun perlu diingat, apa yang Anda inginkan dalam berhubungan seks harus dikomunikasikan dengan pasangan Anda. Demikian pula sebaliknya.
3. Menerima Apa Adanya
Ketika seorang pria dan wanita sudah sekamar dan sedapur, masing-masing akan tampak sifat aslinya. Rayuan gombal tidak muncul lagi seperti saat pacaran.
Yang ada hanyalah dua orang yang harus saling menyesuaikan diri.. Di sinilah kehidupan perkawinan yang sesungguhnya. Anda dan pasangan belajar mengenali perbedaan masing-masing.
Beberapa hal yang umumnya menjadi batu sandungan dalam hubungan suami istri, adalah perbedaan persepsi, wawasan, dan nilai.
Termasuk di dalamnya perbedaan agama, latar belakang budaya, dan kepribadian.
Namun, perbedaan itu sebenarnya bisa diatasi kalau saja mau saling berusaha memahami dan berintrospeksi diri.
Kebanyakan pasutri yang berhasil menciptakan keharmonisan hingga masa tua adalah mereka yang berhasil membangun kebersamaan.
Kebersamaan baru tercipta bila pasangan berhasil menumbuhkan semangat berkorban, tidak egoistis, dan memiliki rasa saling pengertian.
4.. Jangan Biasakan Berbohong
Pernahkan pasangan Anda bertanya secara detail jika Anda masih sibukmeeting hingga malam dengan klien bisnisnya yang ternyata cantik atau ganteng, pintar dan berpenampilan menarik?
Nah, biasanya, agar pasangan Anda tidak terlalu banyak bertanya dan Anda enggan jika nantinya akan muncul pertengkaran, Anda malah berbohong. Anda justru mengatakan hal yang berbeda dengan alasan untuk kebaikan.
Perlu Anda ketahui bahwa hal ini termasuk dalam kebohongan yang bisa jadi akan berlanjut hingga Anda dan pasangan akan hidup berumah tangga dalam kebohongan.
Agar semua itu tidak terjadi, utarakan dengan sikap tenang bahwa apa yang Anda lakukan adalah hanya urusan pekerjaan.
5. Jangan Cemburu Berlebihan
Banyak yang mengatakan bahwa cemburu adalah bumbu dalam hubungan rumah tangga. Oke, itu sah-sah saja!
Tapi bukan berarti Anda atau pasangan bisa cemburu buta. Bukan barang baru bahwa banyak perselisihan terjadi gara-gara rasa cemburu, yang lebih sering berakar dari salah tafsir dan kurangnya keterbukaan.
Misalnya saja, pada suatu ketika karena tuntutan pekerjaan, suami harus mengajak sekretarisnya keluar kota. Sang istri yang hanya mendengar cerita setengah-setengah dari orang lain, bisa dengan gampang menuduh suaminya berselingkuh.
Padahal kalau saja istri mau bertanya dan suami mau terbuka, atau sebelumnya memperkenalkan sekretarisnya pada sang istri, masalahnya bisa jadi lain.
6. Hindari Selingkuh
Perselingkuhan umumnya terjadi karena masing-masing tidak mau saling terbuka ataumendengarkan apa yang dikeluhkan pasangannya.
” Contohnya, sang suami merasa jengkel karena setiap kali pulang, istrinya tidak di rumah.. !! “
Tapi keluhan itu tidak disampaikan, atau sudah diutarakan namun tidak didengarkan, atau istri tidak mau mengubah kebiasaannya.
Perselingkuhan juga bisa terjadi karena pasangan kesepian, jarang merasakan kepuasan seksual atau godaan dari luar seperti tempat hiburan bernuansa erotis, wanita perayu dan lain-lain.
Untuk menyelesaikan percekcokan ataupun perselingkuhan, yang harus dilakukan pertama adalah mencari akar permasalahnnya, kemudian diusahakan untuk dihindari atau disingkirkan.
7. Cari Orang Ketiga Sebagai Penengah
Jika ternyata timbul permasalahan dan percekcokan antara Anda dan pasangan, carilah orang ketiga sebagai penengah.
Orang tersebut bisa pemuka agama seperti Kyai atau pendeta, serta tokoh masyarakat yang memiliki wawasan yang luas dan bijak dan psikolog.
Cari ini lebih baik ketimbang Anda berkeluh kesah dengan saudara, tetangga atau teman2 Anda.. !
8. Tetaplah Mesra
Agar hubungan Anda dan pasangan tetap mesra, buanglah pula jauh-jauh persepsi bahwa kemesraan hanya pantas dilakukan selagi masih berpacaran.
Pada dasarnya, kemesraan itu hak setiap insan, tanpa pandang usia maupun status.
9. Pasrahkan Kepada Yang Di Atas
Terkadang, emosi muncul secara berlebihan ketika permasalahan Anda dan pasangan menguak ke permukaan.
Berdoa dan pasrahkan diri Kepada Yang Maha Pencipta merupakan cara jitu agar emosi bisa diredamkan dan permasalahan bisa segera diselesaikan secara baik-baik.

Hidup berumah tangga hingga akhir hayat, bahagia dan memiliki keturunan merupakan dambaan setiap pasangan yang menikah.

Tidak ada pasangan yang menginginkan perceraian dalam rumah tangga mereka.

kiat1Sudah menjadi berita yang biasa di era sekarang ini jika satu pasangan yang baru menikah beberapa bulan, kemudian terdengar kabar tentang perceraian mereka.

“Bisa saja keputusan mereka untuk menikah, hanya sebatas agar Anda dianggap mampu berumah tangga dan bisa memiliki pasangan saja…”

” Tetapi bukan karena didasari rasa cinta yang mendalam dan keinginan untuk hidup selamanya bersama pasangan Anda…”

Keinginan “semu” ini yang justru berakibat fatal jika tidak segera Anda sadari dan Anda perbaiki sejak awal.

Perceraian seringkali menyakitkan bagi pihak-pihak yang terlibat, termasuk di dalamnya adalah anak-anak.

Perceraian juga dapat menimbulkan stres dan trauma untuk memulai hubungan baru dengan lawan jenis.

Berikut ini beberapa kiat yang diharapkan dapat membantu pasangan menikah untuk mempertahankan selama mungkin usia pernikahan mereka:

1. Komunikasi Dua Arah

Biasakan Anda dan pasangan berkomunikasi, baik ketika berada di rumah maupun ketika sedang berjauhan. Jika ada masalah, sebaiknya dibicarakan ketika Anda atau pasangan sedang santai.

Ketidakharmonisan rumah tangga biasanya berawal dari tidak adanya komunikasi dua arah antara suami dan istri.

Masing-masing saling menyimpan masalah sehingga mereka seolah berjalan sendiri-sendiri meski berada dalam satu atap.

2. Keterbukaan Masalah Seks

kiat2Masalah seks ternyata juga menjadi penyebab perceraian.

Mungkin orang sering lupa bahwa fungsi hubungan seksual selain prokreasi yakni untuk mendapatkan keturunan, juga untuk rekreasi atau kesenangan, dan ” ekspresi cinta” .

Padahal banyak pasangan mengakui, melakukan hubungan seksual dapat menghilangkan ketegangan setelah seharian bekerja.

Bahkan, agar tidak terjadi kebosanan, tak ada salahnya melakukan hubungan seks selain di tempat tidur. Anda bisa melakukannya di dapur,ruang tamu, bahkan di garasi.

Namun perlu diingat, apa yang Anda inginkan dalam berhubungan seks harus dikomunikasikan dengan pasangan Anda. Demikian pula sebaliknya.

3. Menerima Apa Adanya

Ketika seorang pria dan wanita sudah sekamar dan sedapur, masing-masing akan tampak sifat aslinya. Rayuan gombal tidak muncul lagi seperti saat pacaran.

Yang ada hanyalah dua orang yang harus saling menyesuaikan diri.. Di sinilah kehidupan perkawinan yang sesungguhnya. Anda dan pasangan belajar mengenali perbedaan masing-masing.

Beberapa hal yang umumnya menjadi batu sandungan dalam hubungan suami istri, adalah perbedaan persepsi, wawasan, dan nilai.

Termasuk di dalamnya perbedaan agama, latar belakang budaya, dan kepribadian.

Namun, perbedaan itu sebenarnya bisa diatasi kalau saja mau saling berusaha memahami dan berintrospeksi diri.

Kebanyakan pasutri yang berhasil menciptakan keharmonisan hingga masa tua adalah mereka yang berhasil membangun kebersamaan.

Kebersamaan baru tercipta bila pasangan berhasil menumbuhkan semangat berkorban, tidak egoistis, dan memiliki rasa saling pengertian.

4.. Jangan Biasakan Berbohong

Pernahkan pasangan Anda bertanya secara detail jika Anda masih sibukmeeting hingga malam dengan klien bisnisnya yang ternyata cantik atau ganteng, pintar dan berpenampilan menarik?

Nah, biasanya, agar pasangan Anda tidak terlalu banyak bertanya dan Anda enggan jika nantinya akan muncul pertengkaran, Anda malah berbohong. Anda justru mengatakan hal yang berbeda dengan alasan untuk kebaikan.

Perlu Anda ketahui bahwa hal ini termasuk dalam kebohongan yang bisa jadi akan berlanjut hingga Anda dan pasangan akan hidup berumah tangga dalam kebohongan.

Agar semua itu tidak terjadi, utarakan dengan sikap tenang bahwa apa yang Anda lakukan adalah hanya urusan pekerjaan.

5. Jangan Cemburu Berlebihan

Banyak yang mengatakan bahwa cemburu adalah bumbu dalam hubungan rumah tangga. Oke, itu sah-sah saja!

Tapi bukan berarti Anda atau pasangan bisa cemburu buta. Bukan barang baru bahwa banyak perselisihan terjadi gara-gara rasa cemburu, yang lebih sering berakar dari salah tafsir dan kurangnya keterbukaan.

Misalnya saja, pada suatu ketika karena tuntutan pekerjaan, suami harus mengajak sekretarisnya keluar kota. Sang istri yang hanya mendengar cerita setengah-setengah dari orang lain, bisa dengan gampang menuduh suaminya berselingkuh.

Padahal kalau saja istri mau bertanya dan suami mau terbuka, atau sebelumnya memperkenalkan sekretarisnya pada sang istri, masalahnya bisa jadi lain.

6. Hindari Selingkuh

kiat3Perselingkuhan umumnya terjadi karena masing-masing tidak mau saling terbuka ataumendengarkan apa yang dikeluhkan pasangannya.

” Contohnya, sang suami merasa jengkel karena setiap kali pulang, istrinya tidak di rumah.. !! ”

Tapi keluhan itu tidak disampaikan, atau sudah diutarakan namun tidak didengarkan, atau istri tidak mau mengubah kebiasaannya.

Perselingkuhan juga bisa terjadi karena pasangan kesepian, jarang merasakan kepuasan seksual atau godaan dari luar seperti tempat hiburan bernuansa erotis, wanita perayu dan lain-lain.

Untuk menyelesaikan percekcokan ataupun perselingkuhan, yang harus dilakukan pertama adalah mencari akar permasalahnnya, kemudian diusahakan untuk dihindari atau disingkirkan.

7. Cari Orang Ketiga Sebagai Penengah

Jika ternyata timbul permasalahan dan percekcokan antara Anda dan pasangan, carilah orang ketiga sebagai penengah.

Orang tersebut bisa pemuka agama seperti Kyai atau pendeta, serta tokoh masyarakat yang memiliki wawasan yang luas dan bijak dan psikolog.

Cari ini lebih baik ketimbang Anda berkeluh kesah dengan saudara, tetangga atau teman2 Anda.. !

8. Tetaplah Mesra

Agar hubungan Anda dan pasangan tetap mesra, buanglah pula jauh-jauh persepsi bahwa kemesraan hanya pantas dilakukan selagi masih berpacaran.

Pada dasarnya, kemesraan itu hak setiap insan, tanpa pandang usia maupun status.

9. Pasrahkan Kepada Yang Di Atas

Terkadang, emosi muncul secara berlebihan ketika permasalahan Anda dan pasangan menguak ke permukaan.

Berdoa dan pasrahkan diri Kepada Yang Maha Pencipta merupakan cara jitu agar emosi bisa diredamkan dan permasalahan bisa segera diselesaikan secara baik-baik.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

About dhasibali

Just ordinary person living in Bali-Indonesia, but always willing to record whatever being experienced in life.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s