(Bukan) Cinta Pat Kai – Derita Cinta Tiada Henti

DISCLAIMER :

Bacalah Weblog saya ini dengan hati yang bersih, niat yang tulus, pikiran yang cemerlang sehingga tidak menimbulkan praduga yang macam-macam seandainya ada nama dan tokoh dalam cerita ini secara kebetulan saja sama dengan pembaca…

Aku punya teman, namanya Nugroho. Anaknya masih muda, tetapi dia sudah menyadang gelar mahasiswa S2, dengan status nilai Cumlaude pada gelar S1-nya…..

Aku juga punya teman, Namanya Widya. Dia penghobi hewan, sangat mencintai binatang, perkembangan dan kesehatannya, dia masih kuliah, nah… pas di Kedokeran Hewan.

Kedua teman saya ini sangat baik. Saya menyebutnya baik karena masing-masing memiliki hati nurani yang tajam, keduanya juga tidak mau menyakiti hati orang lain, berusaha semaksimal mungkin untuk menyenangkan hti orang lain.

Ternyata beberapa bulan yang lalu temen saya Nugroho ini menyatakan cintanya kepada temen saya si Widya. Saya sih ga tahu betul sat itu(karena saat itu saya musti mengatur keberangkatan rombongan teman-teman saya ke Gunung Lawu, orang Bali menyebutnya melakukan Tirtayatra (lihat blog saya berikutnya berjudul Gunung Lawu – Sebuah Perjalanan Spiritual), yang mana akhirnya kedua teman saya ini juga ternyata ikut dalamrombongan itu.

Singkat cerita, katanya sih…. Kedua teman say itu dalam status “pacaran”, saya sengaja taruh dalam tanda petik.

Sementara itu, Nugroho sibuk menyelesaikan tugas-tugas untuk thesis di S2-nya, Widya juga sibuk dengan tugas-tugas di Kampusnya (maklum seorang mahasiswi yg aktif di berbagai kegiatan kampus).

Keduanya jadi jarang berhubungan, karena semakin larut dengan kesibukan masing-masing, paling banter hanya nanyain khabar, abis gitu selesai deh pembicaraannya…. Dan seiring dengan waktu hubungan keduanya ternyata menjadi semakin jauh.

Dan suatu ketika, ketika Nugroho mengatakan tentang hubungan mereka kok jadi terasa “lain” (baca: terasa semakin renggang), Widya menjawabnya dengan santai : “Emang ada hubungan apa?”

Nugroho yang berkepribadian lemah gemulai (tidak suka nuntut :red) akahirnya menilai bahwa memang Widya sudah tida mencintainya lagi. Sementara Widya menilai : “Apa beer nih saya dicintai Nugroho? Sebab kalau memang dia mencintai saya, tentu dia lebih bias memperhatikan saya.”

Akhirnya Widya pun membiarnya (menguji) dan sebagai seorang wanita tentu sangat logis kalau dia ada di pihak yang “menunggu” reaksi berikutnya dari Nugroho, yang ternyata tidak memberikan reaksi apa-apa (spt yg diharapkan Widya).

Waktu berjalan, Nugroho pun sudah semakin siap kalau ditinggalkan oleh Widya (tetapi bukan karena tidak mencintainya, tetapi karena dia ingin melihat Widya menjdi bahagia dengan pilihannya). Sedangkan Widya yang sebetulnya masih mencintai Nugroho, tetapi dengan gaya, model, cara menampilkan cintanya seperti itu, sehingga membuat Widya jadi ragu apakah Nugroho memang benar-benar mencintainya atau tidak, sebab saat dibutuhkan tidak selalu ada, saat sedikit rengang – tidak berusaha mau mempertahankan hubungan yang pernah dibina-nya.

Alhasil…: Jaka Sembung bawa Gitar : Ga Nyambung..—Jreng (suara Gitar)….

Widya akhirnya menemukan lelaki lain (meski perasaannya tidak setulus saat dia mencintai Nugroho). Tetapi ada sekelumit kepuasan dalam hati Widya bahwa dia bisa mencari pacar yang bias mencitainya dg baik, member perhatian, ada saat dibutuhkan, membantu saat diperlukan… meski tetap saja cintanya tidak setulus cintanya utk Nugroho…. (Pelarian nih… bukan juga… :red).

Nugroho pun demikian adanya. Dia sudah sanat pasrah mendengar kalau Widya memang akan meninggalkannya dan dia sudah tidak lagi merasa terluka atau bersedih seperti saat cinta pertamanya kepada Novya, yang sempat membuat dia pusing sedih ber-minggu-minggu.

Kali ini tidak, Nugroho jauh lebih siap!!! Meski tetap cintanya kepada Widya tidak tergantikan oleh gadis lain, dia tetap mencintainya. Tetapi dia lebih senang melihat Widya bahagia, meskipun tidak bersamanya.

MORALE of THE STORY :

Sangat disayangkan kalau kedua pasangan tersebut komunikasinya sangat tidak nyambung. Apa yang diharapkan oleh Widya terhadap seorang Nugroho, dan juga sebaliknya, ternyata tidak pernah bisa dikomunikasikan oleh keduanya.

Secara sepintas, kelihatannya kedua pasangan tersebut masing-masing sudah bias jalan pda porsi hidupnya dengan tanpa ada sentuhan kepentingan apapun. Tetapi ternyata jauh di lubuk hati mereka ternyata masih menyimpan benih cinta yg tak akan begitu saja bisa terhapus, setidaknya oleh salah satu pasangan.

Artinya : Saat mulai mengatakan status pacaran, pasangan itu mestinya menyadari beberapa hal :

  1. Bahwa pacaran itu adalah pendekatan untuk “belajar” untuk memahami dua perbedaan yang ingin di-persatu-kan. Sehingga selama proses pacaran tersebut masing-masing individu setidaknya mencoba membuka diri (baca: hati, pikiran, perasaan) sehingga semakin tahu tentang perbedaan-perbedaan masing-masing untuk dipahami kemungkinan untuk dapat di-Satu-kan.
  2. Bahwa selama proses pacaran itu adalah merupakan proses pendewasaan diri dalam hal berkomunikasi. Jangan hanya mengkomunikasikan yang baik-baik saja, dan menutupi yag jelek-jelek. Kedewasaan yang dimaksud adalah Siap menerima kejelekan/kekurangan pasangannya dengan melihat kelebihan-kelebihan yang dimiliki.
  3. Tentu proses tersebut tidak hanya bias dilakoni hanya dengan menlpon, tetapi juga perlunya keberadaan / waktu / saat-saat berdua sehingga bisa lebih mendekatkan hati masing-masing untuk saling menjadi terbuka mengutarakan kelebihan dan kekurangan masing-masing (supaya jangan setelah married, malah merasa asing di negeri sendiri, tidak tahu kekurangan pasangan sehingga merasa terkejut/terkaget-kaget, terutama untuk yang bersifat Invisible : seperti sifat, karakter, emosi, dsb.).
  4. Prosed pacaran adalah proses pendewasaan diri, baik secara fisik, mental, emosional, maupun spiritual. (any comment? Ask the blogger)…..

Untuk kasus diatas…, saya piker saya cuupkan saja blogging nya segini dulu. Alau ada komentar, silakan diisi di bawah ini.

Salam…

DS

About dhasibali

Just ordinary person living in Bali-Indonesia, but always willing to record whatever being experienced in life.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to (Bukan) Cinta Pat Kai – Derita Cinta Tiada Henti

  1. tutde says:

    aku tidak bisa berkata-kata.. selain betapa cantiknya bunga ini…this white rose, means alot for me.. betapa bahagianya aku ketika bunga itu ada di tanganku… so sweet…
    meskipun bunga itu layu dimakan waktu, tetapi tetap saja dia bunga mawar putih…
    meskipun bunga itu berubah menjadi kuning dan kering, tetapi tetap saja dia bunga mawar putih..
    apapun bentuk bunga itu nantinya, tetap saja dia mawar putih yang pernah aku miliki…
    yang terpenting adalah maksud dan arti mawar itu sendiri buat aku, tak berkata kata tetapi memiliki arti sendiri…
    maafkan aku tak bisa menjaga mawar itu tetap tumbuh cantik, detik demi detik, hari demi hari, ia berubah.. tetapi tak merubah arti mawar itu di hatiku…

  2. abahoryza says:

    wah jadi mampir kesini atas budi baik wp

  3. dhasibali says:

    hehehe….. mas tutde rupanya cukup romantis juga yah…..

  4. dhasibali says:

    mas abahoryza, makasi commentnya….🙂

  5. tutde says:

    lupa isi gambar white rose yg kukasi ke widya

  6. iwyrobi says:

    mawar akan menjadi lebih indah apabila dia dirawat dan disirami, spt kehidupan skrg ini (jaman kali) hidup ini penuh dengan rasa haus, haus akan kasih sayang, haus akan ilmu pengetahuan (rohani ??) maka sudah selayaknya lah kita menyiraminya agar mawar yang indah tidak layu kering menjadi seonggok sampah tanpa makna.

    hehehehehe ini ngobrolin mawar ya ?

    peace.

  7. dhasibali says:

    mas iwyrobi, makasih comment-nya, semoga bermanfaat bagi yang mau memanfaatkannya🙂 hehehe…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s